Ular-Ular II


Rambu rambu dalam perkawinan,
bukan soal harta dan bukan karena wajahnya,
hanya hati modalnya,
jika salah sekali dan jika benar pun sekali,
jika terlanjur sulit maka sulitnya luar biasa,
tak bisa dibeli dengan harta.

Share

Ular-Ular

kembangSaat kita dan calon pasangan hidup kita sepakat mengikrarkan tali kasih mulia, hingga sepakat membuka pintu pernikahan, hampir semua hal tuk sambut hari bahagia, bisa diwujudkan dengan beragam nuansa. Adakah yang tertinggal ? Rasanya sudah semua siap, jika kita telusur satu demi satu, mengingat hari itu adalah momen penting dalam perjalanan hidup insan manusia. Masih adakah yang kurang !

Apa yang mesti kita periksa lagi ?
Wong semua telah kita serahkan kepada yang berpengalaman dan profesional. Kita percayakan undanganmenikah, buah tangan (souvenir), gaun pengantin kepada desainer dan seniman pengrajin termashur. Mas kawin senilai kapal pesiar, tempat pernikahan dan menu kuliner yang mewah nan exclusive. Panitia pelaksana acara pernikahan yang berpengalaman membidani seremonial kerajaan, dan pernakpernik lain yang senada pun telah dipersiapkan. Rasanya semua siap, tidak ada terlewat.

ular-ular-judul-batas-atas
Siapa bisa mencuri hati sejati dari kedua calon pengantin ?

Perlu samakah tawar menawar diantara kita berdua dalam menatap momentum pergantian status, perubahan lingkungan diri, transisi kepentingan, elaborasi budaya dan prinsip dalam menjalani masa depan bersama, dan masih ada sekian ‘gerbong’ yang harus dibawa melintasi jalan didepan mereka. Siapa bisa mencuri hati sejati dari kedua calon pengantin ?

ular-ular-batas-bawah

Ketulusan dua hati
yang hampir ‘disatukan’ itu lah,
Sejatinya lebih utama dari aneka ragam yang tampak
oleh indra dan akal kita
dalam memasuki pintu pernikahaan

Share

Hargaku Mana

putri.gif“Pangeranku…..bolehkan aku mohon sesuatu untuk rencana pernikahan kita?” tanya Putri Raja.
“Silahkan putri, dengan senang hati selalu aku dengarkan keinginan mu”, sambut sang Pangeran.
“Undangan pernikahan kita, …..andai dari batu giok yang diukir oleh pemahat ternama, atau dari tembaga yang ditempa, atau dari kain sutera ditulis dengan canting bak membatik kain. Maksud hati sekalian buat tanda mata buat sanak dan kerabat”, papar sang Putri, memberi penjelasan.
“Bunga bunga rampai …..dimana kita dapatkan barang seperti itu di jaman sekarang ini Putri. Seniman idealis surut. Lalu butuh waktu berapa lama pula?” …..sambil menepis gusar Pangeran menjawab.
“Maaf deh pangeran, …..mmm …..kalo pake kertas hologram Pangeran?, kan otentik, ndak palsu. Kertas daur ulang sudah pernah kan untuk undangan Saudaraku. Itu pun kalo Pangeran berkenan…..”, lanjut Putri melengkapi keinginannya.
“Kamu benar benar otentik Putri. Keinginanmu tidak sulit untuk aku penuhi, kala kita hidup satu abad yang lalu.”, puji Pangeran.

pangeran.gifDengan hati-hati Pangeran berilustrasi, karena belum terbiasa dalam dunia barunya, “Denyut realita selalu penuh warna dan irama. Kita ditakdirkan hidup pada saat hampir segalanya cepat, harus efektip dan efisien kata orang orang yang merasa modern, bersamaan dengan semua yang putri inginkan tadi sudah menjadi barang mahal dan semakin langka. Mungkin manusia yang hidup di bumi sudah semakin bertambah banyak, kebutuhan dan keinginan selalu sama atau bergiliran sama. Hingga wahana informasi konon menjadi tema sentral banyak orang yang ingin mengemasnya demi prestis dan gengsi barangkali”…..(hening).

“Eeehm….. Pangeran”, sergah Putri dalam keheningan “Aku jadi ingat wahana yang melewati jarak dan waktu dalam kedipan mata bisa sampai, kala kita menyampaikan informasi, tanpa hilang makna, etika, seni, dan prestisnya…..tadi Pangeran sebut efektif serta efisien kata orang yang merasa modern. Lalu bagaimana dengan yang merasa postmodern?”

“Kamu benar otentik Bidadariku, Bungarampaiku”. Tak henti-henti Pangeran berucap…..

[Dari Kota Atas Semarang - Sony W.A. 04/08]

Share

Undanganmu Sendiri

Simbah (bahasa jawa=kakek/nenek) pernah berkata seperti berikut, Le (thole = bahasa jawa yang berarti anak), kalo kamu mau buat undangan menikah, buatlah itu seperti niat dan kehendakmu sendiri, kamu mau menikah untuk apa dan bagaimana? Salurkanlah energimu di sana (undangan), wong itu kan acara-acaramu sendiri toh.” Ucapan Simbah itu memang bagaikan magnet yang kemudian menarik semua ide yang ada untuk membuat undangan menikah waktu itu. Para pembuat dan desainer undangan cetak pun pasti akan bertanya kepada pemesan undangan menikah, “Konsepnya apa?”, “Warnanya yang dipake apa?”, dll, dan jikalau yang ditanya kebingungan akan diberikan contoh-contoh undangan menikah yang pernah dibuatnya. Jika saja orang yang hendak memesan undangan menikah tersebut punya Simbah seperti di atas, pasti waktu memesan undangan menikah dia akan bilang, “Mas, bisa buat undangan menikah dengan konsep kamasutra ngak?”. Ilustrasi di atas hanya bagi mereka yang kebingungan membuat undangan menikah saja. Mungkin karena banyak pikiran seperti menentukan tanggal, pesan tempat, belum lagi katering, undangan untuk berapa orang, dan sebagainya. Sehingga untuk mbuat undangan saja kebingungan. Namun jangan lupa, menikah merupakan momen seumur hidup sekali (harapannya) maka buatlah undangan menikah yang menarik, meriah, merupakan ide sendiri dan sebisa mungkin tidak memerlukan biaya yang banyak. Namun tetap membuat banyak orang untuk datang mendoakan. Begitu bukan?

wide-cover.gif

Share