Midodareni yang Sakral
Midodareni, merupakan prosesi pernikahan yang dilampahi menjelang acara akad nikah. Midodareni sendiri berasal dari kata widodari, bermakna bidadari. Sebagai mitos yang berkembang di kalangan masyarakat jawa, konon pada sesi Midodareni, Sang Bidadari – Dewi Nawangwulan dari khayangan turun ke bumi, untuk mempercantik dan menyempurnakan aura anak gadisnya sebagai calon pengantin wanita, turut merestui prosesi pernikahan yang sakral dan hikmat.
Midodareni, adalah upacara untuk mengharap berkah Tuhan Yang Maha Esa, agar memberikan keselamatan kepada pemangku hajat pada perhelatan hari berikutnya. Secara khusus, pemangku hajat mengharapkan turunnya wahyu kecantikan bagi calon pengantin wanita, sehingga kecantikannya diibaratkan bidadari.
Pun ada yang mengartikan midodareni dari kata Widada dan areni. Widada artinya selamat, areni = ari + ni =hari ini. Midodareni adalah pemanjatan doa (harapan) keselamatan. Midodareni merupakan upacara yang cukup sakral. Pada siang harinya, kedua calon pengantin telah disirami, suci raga dan jiwa, malam hari siap untuk menerima anugerah wahyu jodoh, dan mempersiapkan keesokan harinya untuk dinikahkan. Pada malam itu juga dilaksanakan acara permohonan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pada akhir rangkaian tirakatan midodareni ini, adalah upacara wilujengan (upacara selamatan).
Sekian makna yang menjulang dari ramuan midodareni, patutlah kita rujuk tujuan yang dibawa dalam prosesinya, yaitu :
- Menunjukan tekad bulat dan suci untuk siap menjalankan pernikahan.
- Pernyataan syukur kepada Tuhan karena sang putri telah siap untuk dinikahkan. Karena pernikahan anak merupakan kebahagiaan tak terhingga bagi orangtua.
- Permohonan kepada Tuhan agar akad nikah berjalan lancar dan selamat.

