Seperti Ini Rasanya…

Ternyata seperti ini rasanya. Kenapa ndak dari kemarin aja kita mewujudkan keinginan melaksanakan akad nikah. Kalimat standar yang seolah harus muncul dalam expresi dari pasangan mempelai yang baru beberapa menit di syah-kan sebagai pasangan suami istri, dan tampaknya akan terus membidik calon pasangan berikutnya yang akan melalui momentum itu.“Kenapa ya, muncul rasa sepertu itu? Padahal beberapa menit yang lalu sebelum prosesi akad dan waktu panjang sebelumnya, banyak hal yang berat jika dipikir dengan akal dan logika kitaâ€, papar pengantin laki-laki…..
Pagi yang penuh ketenangan dan harapan turut menyongsong hati kedua calon pasangan suami istri ,meskipun gemuruh dalam hati insan manusia ini tak dapat disirnakan. Gugup, senang, bangga, was was, bercampur dalam bungkus kepasrahan. Terlebih saat tangan calon mempelai laki dijabat,…..dan…..Saya terima nikah nya Agoestina Widyastoeti binti….., dengan mas kawin…..tunai. Sederet niat dan kalimat pamungkas yang disampaikan Indang Padli untuk mengakhiri kagundahan diri.
Dari depan ditegaskan dengan suara…..Sah…????…..Saahh…..dan bersamaan saling menyambut jawaban kata yang sama dari para hadirin yang hadir menyaksikan momentum prosesi akad nikah , sabtu 22 Maret 2008 di Masjid Agung.
Dan mereka telah mewujudkan niat untuk hidup bersama dalam suka dan duka, untuk saling belajar dan memberi…..dan kapal mulai berlayar…..Doa dan Harapan senantiasa menyertai waktu yang akan dilalui mereka berdua, Amin.
Tasyakur resepsi atas telah diberikan momentum pernikahan Indang-Enno (Tina) dan keluarga besar dari keduanya dilaksanakan keesokan hari, penuh dengan rasa syukur dan lega terpancar dari wajah kedua orang tua mempelai.
Keluarga, saudara, kerabat, dan tamu undangan meluangkan waktu untuk menyemarakkan resepsi, mengucapkan selamat secara langsung kepada pengantin dengan expresi jamak. Lalu Stoppp…..photo dulu pak,…..bu,…..mas,…..teteh,…..om,…..
Alhamdulillah,…..selamat pak, bu, mbak, mas.

[Dikirim oleh : Sony W.A. a/n teman-teman]


